Kutuntun jalanmu yang layu
Kurapikan rambutmu yang sarat rindu
Kubersihkan tubuhmu yang lebam membiru
kerna terlalu banyak menelan haru
Tuanku,
Untuk apa kau menanti kenangan
yang takkan mungkin pulang?
Sampai kapan kau terus meneguk sendu
yang takkan pernah memberimu waktu
Senja yang kini berisi tangis
Kian mengiris dengan serbuan gerimis
Tubuhmu makin sempoyongan
namun kau tak henti mabuk kenangan
Jalan masih panjang, Tuan
Jangan larut dalam air mata dan kesedihan
Sudahlah, Tuan
biar hujan menghapus segala sedu-sedan
***
Senja hilang ditelan sunyi
Puisi yang selalu berkicau dengan pemabuk itu kini
telah pergi
Entah pejuang, entah pembangkang
Yang jelas pemabuk itu tinggal tulang
yang berserakan di sebuah petang
(Dian Fajarianto, 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar