Kota tak punya rumah.
Kota penuh sesak dengan hutan beton yang tak ramah.
Kota penuh jejal dengan kali sampah
dan nyanyian di lampu merah.
Kota ingin punya rumah.
Tapi kota hanya pemisah
kemiskinan yang melimpah
kekayaan yang meruah.
Kota ingin rumah yang besar
yang cukup untuk menampung dredah masalah.
Agar dapat menyimpan tunas-tunas yang segar dan tegar
dan menyegarkan nafas yang gerah.
(Dian Fajarianto, 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar