Sabtu, 21 Agustus 2010

Sepeda Baru

Dulu pernah ia dihadiahkan sepeda baru
oleh ayahnya di ulang tahunnya yang ke tujuh
 
Saat mengayuhnya ia merasakan
tangisan ibunya
jatuh berdenting lewat pelupuk matanya
Saat terjatuh ia mendengarkan
gemeretak tulang ayahnya
jatuh terbanting tertindih tubuh gemuknya 

Kini tak ada lagi sisa
melainkan hanya setang dan roda,
namun ia tetap menyimpannya.

Ayahnya pernah berkata
di akhir hayatnya,
“Aku ingin naik sepeda”

Kini ia tetap menyimpannya
walau tinggal setang dan roda
Konon, setangnya terbuat dari tulang ayahnya
dan rodanya terbuat dari bola mata ibunya

(Pemalang, 10 Juli 2010, Dian Fajarianto)

 

Jumat, 20 Agustus 2010

Hutan Mati

Kucari kau
di sebuah semak lebat berduri
di sayup suara burung terbatuk-batuk mengutuki hari
di kilau cahya surya yang menyimpan sejuta misteri
tak ada

Kucari lagi
di kamarmu yang penuh nafas bau para pemburu
dulu kau suka main di sini
sebelum rambutmu habis dicukur gergaji

Kemanakah kau?
Kemanakah kau yang selalu menunggu di tepi kali
Kali yang kini sudah pindah ke saluran limbah megaindustri
Yang kulihat cuma mesin produsen polusi
sedang duduk di atas bangkai busuk para kuli

Ah, ketemu juga kau
di sebuah padang rambut yang sakit-sakitan
Kau sedang mati di tetumpukan zaman
yang dikuasai orang-orang edan

Tapi yang pasti
Kebenaran belumlah mati

(Dian F,2010)

GILA

Ah, asyiknya duduk di bawah matahari
sambil melihat setan menari-nari
di rimbun kata-kata yang belum rapi.

Setan yang tadinya tenang-tenang saja
ternyata ngantuk juga.
Dengan sempoyongan masuk ke dalam sajak-sajak saya
dan bertapa di sana.

"Pergi! Seharusnya kau masuk rumah sakit jiwa!"
Setan itu seenaknya sendiri mengusir saya,
padahal itu kan rumah saya.

Saya melihat setan itu bertapa,
tiba-tiba ia ngeloyor ke sebuah kuburan
yang tak jauh dari sana.
Dengan agak takut saya bertanya,
"Sampean ngelayat siapa?"
"Ngelayat orang gila yang mati di pikiranmu!"
Gila! Sebenarnya siapa yang gila?

Dian Fajarianto,2010

Rumah Kota

Kota tak punya rumah.
Kota penuh sesak dengan hutan beton yang tak ramah.
Kota penuh jejal dengan kali sampah
dan nyanyian di lampu merah.

Kota ingin punya rumah.
Tapi kota hanya pemisah
kemiskinan yang melimpah
kekayaan yang meruah.

Kota ingin rumah yang besar
yang cukup untuk menampung dredah masalah.
Agar dapat menyimpan tunas-tunas yang segar dan tegar
dan menyegarkan nafas yang gerah.

(Dian Fajarianto, 2010)

Tikus Berdasi

Walau nyolong kau selalu ditolong
Jeruji besi pun megap-megap saat kau suap

Kau rakus seperti tikus
Walau berdasi bak politisi

Tak perlu dicari, kau mudah ditemui
Dengan dandanan paling masa kini

Tikus berani berdasi, tikus berani beraksi
Membiarkan kami pucat pasi

Siapa engkau? Yang sudah berani menggerogoti keadilan?
Engkau, sebuah kesaksian tentang keroposnya tiang zaman

Hukum seakan tak peduli dengan keadilan
Atau keadilan sudah dihanguskan di perapian

Kau tak punya hati, kau tak tahu arti
Terima kasih, telah kau lebihkan luka di hati ini

(Dian Fajarianto, Pemalang, Juli 2010)

Sampai Kapan

Kutuntun jalanmu yang layu
Kurapikan rambutmu yang sarat rindu
Kubersihkan tubuhmu yang lebam membiru
kerna terlalu banyak menelan haru

Tuanku,
Untuk apa kau menanti kenangan
yang takkan mungkin pulang?
Sampai kapan kau terus meneguk sendu
yang takkan pernah memberimu waktu

Senja yang kini berisi tangis
Kian mengiris dengan serbuan gerimis

Tubuhmu makin sempoyongan
namun kau tak henti mabuk kenangan
Jalan masih panjang, Tuan
Jangan larut dalam air mata dan kesedihan
Sudahlah, Tuan
biar hujan menghapus segala sedu-sedan

***

Senja hilang ditelan sunyi
Puisi yang selalu berkicau dengan pemabuk itu kini
telah pergi
Entah pejuang, entah pembangkang
Yang jelas pemabuk itu tinggal tulang
yang berserakan di sebuah petang

(Dian Fajarianto, 2010)