Dulu pernah ia dihadiahkan sepeda baru
oleh ayahnya di ulang tahunnya yang ke tujuh
Saat mengayuhnya ia merasakan
tangisan ibunya
jatuh berdenting lewat pelupuk matanya
Saat terjatuh ia mendengarkan
gemeretak tulang ayahnya
jatuh terbanting tertindih tubuh gemuknya
Kini tak ada lagi sisa
melainkan hanya setang dan roda,
namun ia tetap menyimpannya.
Ayahnya pernah berkata
di akhir hayatnya,
“Aku ingin naik sepeda”
Kini ia tetap menyimpannya
walau tinggal setang dan roda
Konon, setangnya terbuat dari tulang ayahnya
dan rodanya terbuat dari bola mata ibunya(Pemalang, 10 Juli 2010, Dian Fajarianto)